Bayangkan seorang pekerja yang sudah bertahun-tahun menguasai pekerjaannya. Ia tahu bagaimana menjalankan mesin, memahami alur kerja, mengenali masalah di lapangan, dan sudah terbiasa dengan prosedur keselamatan.
Lalu perusahaan mulai menggunakan teknologi baru.
Sebagian proses menjadi otomatis. Mesin mulai terhubung dengan sistem digital. Data operasional muncul secara real-time. Beberapa keputusan bahkan dibantu oleh AI.
Pekerja tersebut mungkin masih sangat berpengalaman. Namun, ada satu pertanyaan yang mulai muncul:
“Apakah kompetensi yang membuatnya andal lima tahun lalu masih cukup untuk bekerja dengan aman hari ini?”
Di sinilah isu Future of Work bertemu dengan K3.
Perubahan teknologi bukan hanya mengubah cara pekerjaan dilakukan. Ia juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan aman.
Dalam konteks K3, kompetensi biasanya dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk menjalankan pekerjaan sesuai standar, prosedur, dan persyaratan keselamatan. Namun, kompetensi bukan sesuatu yang sifatnya permanen.
Ketika teknologi, proses kerja, peralatan, maupun tanggung jawab berubah, kompetensi yang dibutuhkan juga ikut bergeser.
Contohnya sederhana:
Seorang operator yang sebelumnya berfokus pada pengoperasian mesin secara manual mungkin sekarang harus membaca dashboard, memahami indikator digital, merespons system alert, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Pekerja maintenance juga bisa menghadapi kondisi yang berbeda. Selain memahami mekanik atau elektrikal, mereka mungkin perlu berhadapan dengan sensor, sistem terintegrasi, remote monitoring, hingga perangkat lunak tertentu.
Artinya, masalahnya bukan bahwa kompetensi lama menjadi tidak berguna. Masalahnya adalah ketika kompetensi lama dianggap sudah cukup.
Competency gap adalah kesenjangan antara kompetensi yang saat ini dimiliki pekerja dengan kompetensi yang sebenarnya dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan secara efektif dan aman.
Kesenjangan ini bisa muncul secara perlahan.
Teknologi baru diterapkan. Sistem kerja berubah. Tanggung jawab bertambah. Tetapi pelatihan masih menggunakan materi lama dan job competency belum diperbarui.
Akibatnya, seseorang bisa terlihat “berpengalaman”, tetapi belum tentu siap menghadapi risiko dari pekerjaan yang sudah berubah.
Dalam perspektif K3, kondisi ini perlu diperhatikan karena perubahan kompetensi dapat berhubungan langsung dengan perubahan risiko.
Contohnya:
Pekerja yang tidak memahami sistem tersebut mungkin tidak hanya mengalami kesulitan bekerja, tetapi juga berpotensi salah mengambil keputusan ketika terjadi kondisi abnormal.
Di lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi, kompetensi pekerja mulai membutuhkan kombinasi beberapa kemampuan.
Bukan berarti semua pekerja harus menjadi ahli teknologi.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami teknologi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, sekaligus tetap mampu mengenali dan mengendalikan risiko.
Ada tiga kelompok kompetensi yang semakin penting.
Kemampuan teknis tetap menjadi dasar. Operator tetap perlu memahami mesin. Teknisi tetap membutuhkan pengetahuan mekanik atau elektrikal. Pekerja di lapangan tetap harus memahami proses kerja yang mereka jalankan. Teknologi tidak menghapus kebutuhan tersebut. Justru, ketika sistem semakin kompleks, pemahaman teknis dibutuhkan agar pekerja tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami mengapa sistem bekerja seperti itu dan apa yang terjadi ketika sesuatu tidak berjalan normal.
Literasi digital dalam pekerjaan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi. Pekerja perlu memahami bagaimana teknologi memengaruhi proses kerja mereka. Hal yang penting di sini adalah tidak terlalu percaya pada sistem hanya karena sistem terlihat canggih. Teknologi tetap bisa menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau salah dipahami.
Di tengah otomatisasi, kemampuan safety justru tidak kehilangan relevansinya. Pekerja tetap perlu mampu mengidentifikasi hazard, memahami konsekuensi dari suatu tindakan, mengikuti prosedur, menggunakan kontrol yang tersedia, dan mengambil tindakan ketika kondisi tidak aman. Bahkan, cara mengidentifikasi risiko bisa berubah. Inilah salah satu alasan mengapa human-machine interaction menjadi bagian penting dalam pembahasan K3 di era teknologi.
Ada kecenderungan untuk menganggap pekerja yang sudah lama bekerja otomatis lebih kompeten.
Pengalaman memang penting. Namun, pengalaman pada sistem lama tidak selalu berarti kesiapan terhadap sistem baru.
Seorang pekerja bisa sangat mahir menjalankan proses tertentu, tetapi tetap membutuhkan pembekalan ketika:
Karena itu, evaluasi kompetensi sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Apakah pekerja sudah pernah melakukan pekerjaan ini?”
Tetapi juga:
“Apakah pekerja memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan ini dengan aman dalam kondisi saat ini?”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Perubahan teknologi seharusnya tidak hanya menjadi agenda IT, engineering, atau management. Ketika perubahan tersebut memengaruhi cara seseorang bekerja, maka K3 juga perlu ikut masuk dalam prosesnya. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan perusahaan adalah menghubungkan perubahan teknologi dengan tiga hal:
Job → Risk → Competency
Pertama, lihat bagaimana pekerjaan berubah.
Kedua, identifikasi apakah perubahan tersebut menciptakan hazard atau risiko baru.
Ketiga, tentukan apakah pekerja sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mengendalikan risiko tersebut.
Dari sini, perusahaan dapat melihat apakah diperlukan:
Dengan pendekatan tersebut, training tidak hanya dilakukan karena “teknologinya baru”, tetapi karena memang ada perubahan tuntutan kompetensi dan risiko pekerjaan.
Jawabannya: masih. Tetapi standar relevansinya berubah.
Kompetensi tidak lagi cukup dinilai dari seberapa lama seseorang bekerja atau seberapa baik ia menjalankan prosedur yang sudah ada. Kompetensi perlu dilihat dari kemampuan pekerja untuk memahami pekerjaannya dalam konteks yang terus berubah.
Di era Future of Work, pekerja yang kompeten bukan hanya mereka yang bisa mengoperasikan teknologi.
Mereka adalah pekerja yang mampu menggabungkan:
dan tahu kapan harus mengikuti sistem, kapan harus memverifikasi, serta kapan harus melakukan intervensi.
Bagi perusahaan, ini berarti pengembangan kompetensi tidak bisa menjadi program yang berhenti setelah onboarding atau pelatihan tahunan. Setiap perubahan signifikan pada teknologi dan proses kerja seharusnya menjadi alasan untuk bertanya kembali:
“Apakah orang yang menjalankan pekerjaan ini sudah benar-benar siap?”
Karena pada akhirnya, Future of Work bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan.
Ini juga tentang seberapa siap manusia yang bekerja bersamanya.
Perusahaan tidak perlu menunggu sampai terjadi insiden untuk menemukan bahwa ada competency gap.
Mulailah dengan melihat perubahan pekerjaan, memetakan risiko yang ikut berubah, lalu mengevaluasi apakah kompetensi pekerja sudah sesuai dengan tuntutan tersebut.
Foresta Consulting membantu perusahaan melihat kebutuhan kompetensi dan K3 secara lebih menyeluruh, bukan hanya berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga risiko dan perubahan cara kerja di dalamnya.
Jika perusahaan Anda sedang menghadapi perubahan teknologi, proses, atau kebutuhan kompetensi, diskusikan bersama kami bagaimana memastikan pekerja tetap kompeten dan bekerja dengan aman.